Showing posts with label financial planning. Show all posts

Nabung Biaya Pendidikan

Di TUM lagi2 bahas tentang inflasi biaya pendidikan, disebutkan beberapa produk untuk melawan inflasi, return 10 tahun terakhir:
  • Emas = 422%
  • Properti = 625%
  • RD Saham = 1981%
  • Saham = 770%
  • Saham Blue Chip = 3429%
  • Obligasi = 426%
Mengacu pada daftar diatas, tentu saja sangat tergiur untuk ikut2an buka rekening saham Blue Chip, namun saat proposal yang telah dibumbui dengan ini diajukan pada Rizal, beliau hanya menjawab kalo ketakutan gw mengenai hal tersebut hanya salah satu keberhasilan dari strategi bisnis orang2 yang bergerak di scope itu dan status halal nya juga belum jelas, bisa aja uang yang kita investasikan digunakan untuk bisnis gak halal, misalnya judi, keuntungan dari judi yang akan jadi Laba kita juga jadi ikutan haram, yang artinya kita udah ikut berkontribusi dan nikmatin harta yang gak halal.


Serem juga kalo sampe niat mulia ngasih pendidikan yang layak untuk Queen harus dinodai oleh hal yang haram. Maka dari itu diputuskan untuk investasi mempertahankan nilai aja dulu, saving LM, meskipun nilai returnnya paling kecil tapi berasa lebih yakin di hati, asal gak lupa aja untuk ngebersihin tiap tahun. Bebersihnya bukan digosok biar kinclong yaa..tapi bayar Zakat. 2,5% setelah mencapai Nisab. Nisab buat Emas yang diniatkan sebagai simpanan adalah 85 gram, ada yang berpendapat nisabnya 91 gram, ada juga yang bilang 96 gram. Namun biar lebih hati2 kita pilih saja 85 gram.

Sekarang LM lagi banyak diburu, harganya jadi suombong dan stok barang pun kagak adeee. Meskipun jadi harus menunda untuk mengejar target zakat, Sombongnya harga LM sekarang bikin kita ngerasa "untung". Dari harga tiga bulan terakhir berasa punya deposito dengan bunga 6% tanpa dipotong pajak.


Semoga saat Queen sekolah biayanya bisa terpenuhi, baru ini yang bisa ibu dan papah lakukan sekarang Queen.. Belajar yang baik yah bebbiii, kalo mau kuliah ke Luar Negri juga boleh.. jangan khawatir..nanti ibu dan papah sering2 tengokin kamu. *euuhh..modus pengen jalan2 ini mah..

Masih tergiur dengan produk investasi lain??Duno.. sekarang masih nampak cukup secure dengan metode ini. Eeh Tapi barusan nyasar ke web yang bahas tentang Reksadana Syariah, nampak menggiurkan juga yaa. siap2 belajar ahh..dan buat lagi proposal untuk suami tercinta, kali aja sekarang beliau mau coba investasi model reksadana.

Investasi Bebas Inflasi

Setelah baca komen Bumil di postingan tentang financial planning, jadi inget kalo gw masih nyimpen catetan kecil dari pak ustad yang ngisi pengajian bulanan di kantor. Beliau membahas tentang Investasi bebas inflasi dari sisi keuangan syariah. Pak ustadnya asik banget, beliau dulunya pengusaha yang terkena dampak inflasi saat krismon besar2an di indonesia tahun 1998 yang malah membuat nya menjadi Sosok enterpreuneur agamis, sayang gw lupa namanya..heuheuheu maapkeun.

Bicara tentang inflasi, tahun 98/99 mencapai 45% (sumber:laporan tahunan BI) yang nampaknya berdampak ke semua masyarakat menengah kebawah. Keluarga gw pun masuk ke daftar ini. Masih inget taun segitu gw masih SMP dan sepulang sekolah suka disuruh beli makanan tante neuneu. *dulu masih bayi imutt dan lucu* Dalam waktu dua minggu harga makanan bayi kalengan bisa naik duakali lipat. Itu cuma makanan bayi yah..makanan dewasa dan kebutuhan primer lainnya siiih sama aja.. sampe2 dulu musim antri pembagian sembako. Pokoknya kerasa banget nilai uang sangat rendah, hampir setengahnya gak sih?? lalu menurut pak ustad, rata2 inflasi di indonesia saat ini sekitar 10-11% pertahun, itu berarti setiap empat tahun nilai uang kita berkurang hampir setengahnya. Masuk akal juga kenapa biaya buat pendidikan Queen bisa begitu besar. Awalnya terpikir untuk menabung sekarung uang, tapi kalo tiap 4 taun dipotong setengahnya?? dan harus menabung 20juta/bulan dari sekarang?? darimana uangnya?? *jadi migreen lagi dah

Kalo kita invest dalam bentuk uang yang disimpan di bank atau celengan ayam di bawah kasur sama aja akan kelindes inflasi juga. Kalo gak invest malah lebih menghawatirkan lagi, toh kita diajarkan juga untuk berusaha disamping berdoa. Inflasi ini suatu hal yang gak bisa dilawan, tapi bisa dihindari, Jadi tugas kita untuk mencari suatu produk investasi yang bisa menghindari inflasi. Kata Pak ustadnya, ada empat cara investasi bebas inflasi, yaitu:
  1. Investasi mempertahankan nilai
  2. Investasi natual resources
  3. Investasi Pasar
  4. Investasi kapital.

Gw coba sampaikan lagi penjelasannya..

1. Investasi mempertahankan nilai.
Sesuai namanya, cara ini hanya mempertahankan nilai. Produk investasinya menyimpan barang berharga yang bisa dinilai dengan uang, contohnya Emas. Sebagai perbandingan, Pada jaman Rosul seekor kambing seharga 1 dinar(emas 4,25 gr), saat ini pun harga seekor kambing adalah 1 dinar dan tentu kalo dirupiahkan nilainya gak sama dengan rupiah jaman dulu.
*Jaman Rosul memang gak ada rupiah yah, hoo kalo ngerasa kejauhan coba hitung beberapa puluh tahun terakhir aja, gw udah coba.*
Selain Dinar, bisa juga disimpan dalam Logam Mulia, meskipun sekarang ada ongkos pembuatan untuk LM tapi nilainya gak sebanyak Ongkos Emas perhiasan.


2. Investasi Natural Resources
Udah ketauan donk dari artinya kalo ini berkaitan dengan sumber daya alam. Dalam metode ini selain bisa mempertahankan nilai juga memberikan "laba". Kalo di metode sebelumnya kita menyimpan dalam dinar, di metode ini kita menyimpan dalam bentuk kambingnya. Jika kita punya dua emas, disimpan puluhan taun juga gak akan beranak *jadi inget ponakannya Fita*. Berbeda dengan kambing kalo kita punya sepasang, insyaallah 10 tahun kita udah jadi juragan kambing. *emmbeeee...*
selain hewan, bisa juga invest dalam bentuk tumbuhan. Misalnya berkebun jamur, atau nanam sengon. Jadi inget Kakeknya Turi, pernah ngasih wejangan agar kita punya pohon sebagai investasi. Kalo gak punya lahan sendiri coba sewa dari temen yang tanahnya luas. Perawatannya relatif mudah, kritis diawal2nya aja, kalo udah gede sama kaya pohon2 gede di pinggir jalan cuma minum aer hujan. Returnnya memang butuh bertahun2 tapi hasilnya juga gede.

3. Investasi Pasar
Kalo Investasi ini bukan hanya bisa mempertahankan nilai, tapi juga menahan inflasi. Dengan membangun pasar syariah. Bedanya dengan pasar konvensional, tidak ada batasan untuk masuk dan berjualan. di pasar ini berjualan tidak perlu dibatasi dengan bayar sewa tempat, pungutan keamanan dan pungutan2 lainnya. Calon pedagang yang punya modal sedikit juga bisa jualan tanpa perlu bayar puluhan juta buat sewa kios. Semua masyarakat punya kesempatan untuk jualan dan menghasilkan keuntungan, tentu saja hal ini berpengaruh pada daya beli. kalo suppy dan demand nya stabil terpenuhi maka jauh2 lah inflasi.. ya gak sih..??

4. Investasi Kapital
Porsi Investasi ini lebih punya peranan lagi untuk menahan inflasi karena sudah bermain di penyediaan modal. Membangun Semacam Bank tapi yang lebih syari'i. Misalnya dengan membangun Koperasi, menyediakan pinjaman buat anggotanya, gak perlu sukses dulu untuk dipercaya pinjem modal. Gw belum pernah mengajukan pinjaman ke Bank, tapi katanya sih Bank cuma mau minjemin modal hanya pada orang2 yang sudah bener2 berhasil menjalankan usahanya. kalo macem gw yang belum pernah berwirausaha mau pinjem buat modal usaha belum tentu dikasi, Tapi kalo macem Bob S. yang warungnya ada dimana-mana pastilah dikasi. hohoho..colek Tanti deh yang lebih ngerti "kredit panci". Orang udah kaya ya tambah kaya lagi hehehe...
Rumus kasarnya uang Bob S. perkiraan gw:
Pinjem 2M - dagang - Kembaliin modal - dapet laba 2M.

Sekian yang bisa gw bagi, Catetan ini sebelumnya ada di otak gw yang kadang inget kadang lupa, jadi harap maklum yah kalo gw menyampaikan gak plek sama kaya yang pak ustad bilang. dari catetan diatas gw baru bisa menjalankan untuk diri sendiri, yaa keluarga gw termasuk. tapi kalo tiap individu membangun dengan perannya masing2 maka gw yakin kita bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik. Yuks2 kita sama2 berjuang..seperti kata tante Lig..untuk indonesia yang kuat!!

The Financial Planner

Sering denger, menikah karena cinta, tap kalau sudah menikah mulai timbul pertanyaan "emang cukup hidup pake cinta doang?". Butuh beli rumah, beli kendaraan, punya anak, sekolah anak, gaji asisten rumah tangga, dan seabreg kebutuhan rumah tangga lainnya yang harus dibayar pake uang. moral of the story : uang sama pentingnya dengan cinta.

Kesannya matre banget yah,, tapi hal keuangan ini salah satu hal penting yang harus dibicarakan dalam rumah tangga, it's about how to manage financial things, katanya sih bisa jadi penyebab keretakan rumah tangga, tapi kalo dibicarakan secara tepat malah bisa bikin hubungan semakin hangat,,tssaahhh,,

Tulisan ini bukan untuk menyaingi Safir Sinduk dan Ligwina Hananto, or para ahli financial planner lainnya, lah wong basic gw Model gitu lhoo,,, u knoww,,(ups,,tolong abaikan).

Urusan uang ini mulai bkin pusing setelah kami memutuskan untuk tinggal beda pulau. Yayayaya,, seharusnya kami sudah mulai dari awal menikah. Believe me,, itu sudah dilakukan. Mulai dari menuliskan kebutuhan harian, pengeluaran dan juga perencanaan investasi, tapi hanya berakhir dilanggar atau malas melihat dan mencatat le paririmbon yang sebenernya sudah gw janjikan untuk dipatuhi setiap bulannya.

saat masih serumah, mengurus si uang ini rasanya lebih mudah, flow nya, gaji kami masuk ke rekening masing-masing, kebutuhan rumah tangga dibayar mostly dari rekening suami, uang dari rekening gw lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan tidak rutin, yang sifatnya cuma gaya-gayaan karena ceritanya sebagai rekening ngendon untuk tabungan kami.

Setelah suami pindah, ini berarti berdampak juga pada urusan keuangan rumah tangga, dan gw tidak terbiasa untuk ngomongin masalah uang dengan suami, rasanya risih. Saat dimintai catetan expenses bulanan, gw malah berasa diminta proposal budgeting perusahaan oleh boss dan kerjaan tersebut notabene bukan jobdes gw. Parahnya lagi gw malah ngerasa gak dipercaya untuk ngatur keuangan keluarga. Sempet ada beda persepsi pengaturan keuangan. Gw lebih mengedepankan tabungan untuk pembiayaan cita-cita masa depan, sisanya baru untuk kebutuhan harian, tetapi suami sebaliknya, karena takut gak cukup klo kebutuhan saat ini tidak jadi prioritas. Setelah browsing2 dan diskusi juga sama ibu2 di kantor, akhirnya gw mulai merasa sadar untuk bersahabat sama financial planning. langkah awalnya membuat daftar kebutuhan serta sumber pembiayaannya yang dibahas bareng suami.

Hasil bertanya pada ibu2 sekantor, gw meresume sebagai berikut :

  1. Dengan membuka rekening khusus untuk kebutuhan rumah tangga, pembiayaannya bersumber dari kesepakatan bersama untuk menyisihkan sekian % dari rekening masing2, lalu sisa di rekening pribadi untuk kebutuhan pribadi. Ada juga yang bikin amplop-amplop berdasar pengeluaran, tapi metode pembebanannya sama dengan cara bikin rekening bersama.
  2. Ada juga pembiaayaan berdasarkan kesepakatan, misalnya untuk hal-hal yang sifatnya membutuhkan dana besar (misal cicilan rumah,beli kulkas,tipi,gaji asisten, bayar rekening-rekening, etc) ditanggung oleh suami, lalu kebutuhan rumahtangga rutin harian ditanggung oleh istri. Atau sebaliknya tergantung siapa yang memiliki penghasilan lebih besar.
  3. Cara gw..

Cara gw ini bisa dibilang adopsi dari cara buibu di kantor, memanfaatkan rekening yang dikhususkan untuk belanja, kita ga buka rekening baru, karena cukup sulit bagi gw yang tinggal dan berkegiatan di Jakarta tapi KTP masih Bandung. Waktu buka rekening baru untuk gaji pun ribetnya minta ampun, harus bermodal surat keterangan dari kantor tempat bekerja dan Bank tempat buka rekening pun harus cabang yg paling deket kantor..weww,,gw kira si surat sakti dari kantor itu beneran sakti bisa di pake dimana ajah,, fiuuhh!!

Sumber pembiayaan:

  1. Belanja kebutuhan harian : Setiap awal bulan gw transfer ke rekening belanja sesuai expenses yang diplanning. Sumber pembiayaan memang full diambil dari rekening gw, Kecuali masalah bayar2 yang bisa transfer, contohnya Listrik dan telephone. Alesannya simple sih, karena jaringan bank yang terdaftar di payroll suami ga bisa transfer ke rekening gw or rekening belanja, Cuma bisa ke rekening kami yang lain dengan tambahan “syariah” dibelakangnya, dan ceritanya dibahas di poin 2.. Sisa gaji gw setelah transfer, disimpan untuk dana darurat. Berdasar hitungan disini, berarti kami harus punya simpanan berbentuk liquid yang jumlahnya 9 kali jumlah pengeluaran bulanan,, doohh PR banget nih ngejarnya..
  2. Untuk dana jangka panjang, kami belum memilih produk financial yang akan dipakai, jadi sementara memang dipilih sistem saving dalam bentuk konvensional, nyimpen uang di bank. Sumber pembiayaannya dari hasil transfer rekening suami ke bank syariah, tentu setelah dikurangi bayar listrik dan telephone juga kebutuhan harian suami selama di nunjauhdisana.
  3. Kalo kita irriiittt.. dari rekening belanja dan juga rekening payroll suami pasti akan bersisa, ini rencananya buat tabungan jalan-jalan,,syukur-syukur cukup buat pergi ke mekkah, amien..

Setelah bikin financial planning untuk keluarga, gw jadi lebih melek tentang masalah keuangan, jadi tertampar keras kalo PR gw banyak banget, terutama untuk perencanaan masa depan. Hihihihi,, sampe sekarang gw ga punya asuransi, jangankan asuransi jiwa, asuransi pendidikan buat Queen pun gw ga punya..err atw belum kali yah..dunow deh masih maju mundur juga buat ikutan asuransi macam gitu, ya kecuali asuransi kesehatan yaa, itu kan dibayarin kantoorr… hehehe..

Fiiuuuhhh.. ternyata bikin financial planning buat keuangan keluarga itu sangat menyenangkan!! Mungkin lain kali gw akan banting setir milih kerjaan yang berkutat dengan uang,,uang,,uang,, cihuy.. kerjaan ini gw tempatin sebagai puncak mahakarya dari karier gw, Boss yang memberikan kerjaan gak ngasi syarat neko-neko, tanpa perlu berbagai tes, gaji+tunjangan+fasilitas sepuasnya, bahkan bonus kasih sayang dipeluk dan dicium setiap waktu oleh dua boss nya.. heuheuheu

ehh..itu mah sekarang juga udah yah, meskipun masih suka kabur dari 6 am to 5 pm, sekedar ber me-time, makan siang bareng kawan yang kadang gratis kalo ada ultah atau Meeting..